Dinkes Kuningan Kerahkan ‘Jumantik’ Untuk Tangkal DBD

Kuningan,- Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kuningan pada musim penghujan tahun ini berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan mengalami peningkatan. Untuk mencegak kasus tersebut terus melonjak, Dinkes Kabupaten Kuningan terus melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan mengerahkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) ke setiap rumah warga.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) pada Dinkes Kabupaten Kuningan, Iud Sudarman mengungkapkan, selama kurun waktu dua pekan di Januari sudah menerima laporan empat warga Kuningan yang terkena DBD. Kini penderita menjalani perawatan di RSUD ’45 Kuningan.

“Kami belum menerima laporan dari rumah sakit lain, namun yang pasti di RSUD ’45 Kuningan sudah ada empat pasien DBD. Kemungkinan di rumah sakit lain pun sudah ada, mengingat adanya permintaan fogging dari desa-desa yang melaporkan keberadaan warganya yang terkena DBD,” ungkap Iud, Senin (14/1/2019).

Diakuinya, kasus DBD di awal 2019 ini terbilang meningkat dibanding bulan sebelumnya dan kini tengah dalam perhatian serius jajarannya. Menurut dia, musim hujan saat ini memicu berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti di lingkungan masyarakat sehingga perlu kewaspadaan bersama untuk mengatasinya.

Salah satu yang kini gencar dilakukan, kata Iud, adalah mengerahkan kembali Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di setiap rumah warga. Jumantik, kata Iud, adalah salah satu anggota keluarga yang ditunjuk untuk melakukan pemantauan lingkungan dari setiap tempat yang mungkin dijadikan sarang nyamuk mulai dari bak mandi, wadah minum burung, penampungan air belakang kulkas hingga wadah kecil yang bisa menampung air hujan.

“Kadang tempat-tempat kecil tersebut luput dari perhatian dan akhirnya menjadi sarang nyamuk. Petugas Jumantik ini dengan dibantu anggota keluarga yang lain melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M plus yaitu menguras, menutup dan mendaur ulang plus melakukan pencegahan seperti menabur serbuk ABT di tempat penampungan air, menanam tanaman anti nyamuk hingga memelihara ikan pemangsa jentik seperti cupang dan lainnya,” papar Iud.

Selain mengerahkan Jumantik, lanjut Iud, Dinkes pun kini tengah mengupayakan kegiatan fogging atau pengasapan di desa-desa yang melaporkan adanya kasus DBD. Dikatakan, sudah satu desa yang telah dilakukan fogging dan direncanakan tiga desa lagi menyusul dalam waktu dekat ini.

“Kegiatan pengasapan dilakukan tidak serta merta saat ditemukan ada warga yang terkena DBD, melainkan harus berdasarkan hasil Pemantauan Epidemologi (PE) atau jentik nyamuk di lingkungan sekitarnya. Dari sekian banyak laporan yang kami terima, ternyata baru empat desa yang dinyatakan terdapat jentik nyamuk Aedes Aegypti, sehingga langsung kami lakukan pengasapan. Satu sudah dilakukan, dan tiga lokasi lain menyusul,” pungkasnya. (Info Kuningan)